Dalam setiap aktfitas yang kita lakukan, kita punya pilihan tentang bagaimana menjalaninya, bagaimana merefleksikannya, dan bagaimana juga melakukan follow up nya. Kita bisa juga hanya menjalaninya tanpa ada proses lain. Tapi, buat saya, ini artinya melakukan sesuatu tanpa ruh/jiwa.
Bertemu dengan teman-teman baru pada saat mengikuti Moslem Exchange Program (MEP) 2015 di Australia, buat saya adalah salah satu cara belajar, refleksi, dan juga proses membangun mimpi tentang kehidupan yang lebih baik, untuk saya, keluarga, komunitas, dan juga untuk negara.
Menjadi salah satu peserta MEP Indonesia-Australia memberikan saya kesempatan untuk bertemu dan tinggal bersama peserta MEP lain, yang adalah orang-orang hebat, yang sudah melakukan banyak hal di komunitasnya.
Ahmad Saifullah, peserta MEP dari Ponorogo, dosen di salah satu Pesantren tertua dan terbesar, Gontor. Dia mengabdikan dirinya untuk agama dan bangsa dalam bidang pendidikan. Dia rendah hati dan sangat penolong. Dari dia saya belajar tentang komitmen dan konsekwensi terhadap komitmen, kontrak pengabdian untuk pendidikan sampai ahir hayat.
Hindun Anisah, peserta MEP dari Jepara. Dia adalah salah satu "bu nyai" yang progressif. Feminis yang rendah hati, dan tidak membedakan-bedakan dalam bergaul. Dari dia saya belajar bagaimana menjadi ibu yang baik dan tetap berkarya. Perhatian terhadap berbagai masalah anak dan perempuan, termasuk masalah lingkungan, sustainable development.
Lenni Lestari, peserta MEP dari Aceh. Dia yang paling muda diantara kita. Tapi komitmen dan kecintaan pada tafsir, membuat semangatnya tidak pernah padam untuk selalu belajar dan menggali lebih dalam mengenai Islam. Saya melihat dia sedang belanja ilmu untuk untuk dibagikan kepada para mahasiswanya di IAIN Zawiyah Cot Kala,, Langsa, Aceh.
Yanuardi Syukur, peserta MEP dari Ternate. Dia adalah dosen dnan seorang penulis muda yang sangat produktif. Tidak kurang dari 30-an buku telah diterbitkan di usianya yang masih 30-an, thirty on thirty. dalam setiap kesempatan, menulis adalah bagian yang tak terpisahkan. Dia menginspirasi saya untuk menulis, membuat karya yang akan kita wariskan kepada anak cucu kita. Hmmmm.... I'm start writing now...
Dari orang-orang hebat ini saya belajar bahwa:
Kita bisa menjadi hebat di usia muda
Kita bisa menjadi hebat dengan karya
Kita juga bisa hebat dengan melakukan pengabdian
Kita bisa hebat dengan melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat
Kita SEMUA bisa menjadi hebat
Semoga bisa menginpirasi
Siti Rohmanatin Fitriani,
Canberra, 22 Maret 2015




Tidak ada komentar:
Posting Komentar