Senin, 30 Maret 2015

Berteman = Belajar

Maret 30, 2015 0 Comments

Dalam setiap aktfitas yang kita lakukan, kita punya pilihan tentang bagaimana menjalaninya, bagaimana merefleksikannya, dan bagaimana juga melakukan follow up nya. Kita bisa juga hanya menjalaninya tanpa ada proses lain. Tapi, buat saya, ini artinya melakukan sesuatu tanpa ruh/jiwa.

Bertemu dengan teman-teman baru pada saat mengikuti Moslem Exchange Program (MEP) 2015 di Australia, buat saya adalah salah satu cara belajar, refleksi, dan juga proses membangun mimpi tentang kehidupan yang lebih baik, untuk saya,  keluarga, komunitas, dan juga untuk negara.

Menjadi salah satu peserta MEP Indonesia-Australia memberikan saya kesempatan untuk bertemu dan tinggal bersama peserta MEP lain, yang adalah orang-orang hebat, yang sudah melakukan banyak hal di komunitasnya.

Ahmad Saifullah, peserta MEP dari Ponorogo, dosen di salah satu Pesantren tertua dan terbesar, Gontor. Dia mengabdikan dirinya untuk agama dan bangsa dalam bidang pendidikan. Dia rendah hati dan sangat penolong. Dari dia saya belajar tentang komitmen dan konsekwensi terhadap komitmen, kontrak pengabdian untuk pendidikan sampai ahir hayat.

Hindun Anisah, peserta MEP dari Jepara. Dia adalah salah satu "bu nyai" yang progressif. Feminis yang rendah hati, dan tidak membedakan-bedakan dalam bergaul. Dari dia saya belajar bagaimana menjadi ibu yang baik dan tetap berkarya. Perhatian terhadap berbagai masalah anak dan perempuan, termasuk masalah lingkungan, sustainable development.

Lenni Lestari, peserta MEP dari Aceh. Dia yang paling muda diantara kita. Tapi komitmen dan kecintaan pada tafsir, membuat semangatnya tidak pernah padam untuk selalu belajar dan menggali lebih dalam mengenai Islam. Saya melihat dia sedang belanja ilmu untuk untuk dibagikan kepada para mahasiswanya di IAIN Zawiyah Cot Kala,, Langsa, Aceh.

Yanuardi Syukur, peserta MEP dari Ternate. Dia adalah dosen dnan seorang penulis muda yang sangat produktif. Tidak kurang dari 30-an buku telah diterbitkan di usianya yang masih 30-an, thirty on thirty. dalam setiap kesempatan, menulis adalah bagian yang tak terpisahkan. Dia menginspirasi saya untuk menulis, membuat karya yang akan kita wariskan  kepada anak cucu kita. Hmmmm.... I'm start writing now...

Dari orang-orang hebat ini saya belajar bahwa:

Kita bisa menjadi hebat di usia muda
Kita bisa menjadi hebat dengan karya
Kita juga bisa hebat dengan melakukan pengabdian
Kita bisa hebat dengan melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat
Kita SEMUA bisa menjadi hebat

Semoga bisa menginpirasi

Siti Rohmanatin Fitriani,
Canberra, 22 Maret 2015

Islamic Council of Victoria: Melayani umat sampai penjara

Maret 30, 2015 0 Comments

Pada tanggal 20 MaretMaret 2015, saya dan teman-teman peserta Moslem Exchange Program (MEP 2015) berkesempatan berkunjung dan berbincang-bincang dengan Islamic Council of Victoria (ICV). Kita disambut hangat oleh Nail Aykan, manager ICV.

Dalam perbincangan ini, Nail mengungkapkan bahwa umat Islam di Melbourne sangat multicultural. Mereka berasal dari berbagai latar belakang suku dan negara beserta segala keunikan budayanya. Inilah yang mendorong  ICV untuk memberikan pelayanan inklusif kepada semua umat Islam di Melbourne hususnya.
Di antara pelayanan yang diberikan adalah mengorganisir sholat Jum’ah di Masjid ICV. Masjid dan kantor ICV berada dalam 1 gedung 3 lantai di Jeffcott Street No 66-68, West Melbourne. Sebagian besar luas bangunan ini digunakan untuk masjid dari lantai 1 sampai 3. Lantai 1 dan 2 untuk jamaah laki-laki. Lantai 3 dihususkan untuk jamaah perempuan. Di masjid ini dilaksanakan sholat jum’ah 2 kali, yaitu pada jam 13:00 dan 14:00 waktu setempat. Alasan dilakukan sholat jum’ah 2 kali ini antara lain adalah untuk mengakomodir berbagai profesi umat Islam yang bervariasi dengan jam kerja bervariasi, juga karena terbatasnya lahan parkir sehingga tidak bisa menampung kendaraan para jamaah sholat jum’ah.
Hal lain yang menark dari pelayaan sholat jumah ICV adalah sholat jum’ah di penjara. Ada 13 penjara d Melbourne, dimana 9% penghuninya bergama Islam. ICV mengorganisir komunitas Islam untuk melayani para narapidana dalam bentuk pelaksanaan sholat Jum’ah di penjara. Kegiatan ini dikoordinir oleh Rahil Khan, Koordinator Imam husus untuk penjara. Selain sholat jum’ah, cara sholat juga diajarkan bagi narapidana muslim yang belum bisa melakukan sholat.
Seringkali kita sebagai umat Islam tidak memberikan perhatian yang cukup terhadap kebutuhan keagamaan saudara-saudara sesama muslim kita yang berada di rumah tahanan atau penjara, terutama di wilayah-wilayah dimana Islam adalah minoritas. Mungkin kita sudah harus mulai memikirkannya.
Hal lain yang menarik adalah pelayanan konsultasi dan konseling. Konsultasi secara tatap muka dilakukan setiap hari jumat oleh para imam di masjid-masjid. Kebanyakan permasalahnya adalah perceraian. Karena para imam tidak dilatih untuk mengatasi persoalan semacam ini, maka terkadang mereka didampingi oeh pekerja sosial yang juga akan membantu proses pelayanannya.
Mungkin tidak banyak lembaga Islam yang memberikan pelayanan konsultasi dan konseling, terutama masalah perkawinan. Padahal, dari pengalaman, saya melihat berbagai persoalan dihadapi terutama oleh perempuan muslim, baik itu masalah pengasuhan anak, kekerasan, ke-tidak sanggupan untuk menjalani poligami, dll.
Sebagai seorang muslim, mungkin banyak hal yang sudah kita lakukan untuk komunitas muslim di mana kita tinggal. Namun, pelayanan untuk umat Islam yang sering luput dari pandangan, mungkin belum kita lakukan. Pelayanan kepada saudara se-iman yang ada di penjara, pelayanan kepada perempuan yang mengalami kesulitan yang berhubungan dengan posisinya sebagai perempuan yang mungkin tidak bisa diwakili dengan pelayanan yang bisa diberikan secara umum untuk laki-laki dan perempuan, dll.
Semoga hal yang baik bisa diambil manfaatnya.

Semoga ide yang baik bisa membaw kita pada kegiatan nyata untuk sesama.  Amin.Wallahu a’lam bisshowab.

Siti Rohmanatin Fitriani

Minggu, 29 Maret 2015

Game: Islam Inside

Maret 29, 2015 0 Comments

Petergould, adalah salah satu seniman muslim di Australia yang saya temui dalam program muslim exchange Indonesia-Australia 2015. Dia bekerja di bidang design. Dia membuat berbagai desain dimana inspirasinya sebagian besar berdasarkan dari ajaran Islam dan juga dari seni-seni Islam.

Salah satu karyanya yg menarik adalah game yg berisikan ajaran Islam. Anak bisa belajar ajaran Islam melalui game-game yg dia buat. Game-game tersebut antara lain Salam Sister, Kids of the Ummah, dan  Amina's kitchen. Game-game ini tentunya menjadi alternatif bagi permainan anak-anak kita di gadget mereka, seperti Hp dan tablet. Game-game ini bisa dimainkan di hp&tab yang berbasis IOS maupun Android. Kita bisa mendownload game ini di playstore. 

Bermain game di hp&tab bagi generasi muda kita saat ini bisa dikatakan tidak bisa diabaikan dan sulit untuk dihindari. Tapi ada upaya yang bisa kita lakukan untuk meminimalisir dampak negatif, dan juga mengupayakan dampak positif dari game.

Di game Amina's kitchen misalnya, anak kita bisa bermain cara memasak dan memilih bahan2 makanan yg halal. ini secara tidak sadar akan mengajarkan anak-anak kita tentang makanan yang halal dan haram. Sebagai seorang muslim, saya akan memilih game ini dibandingkan misalnya game Hayday yg isinya tentang beternak, dimana salah satu binatang ternaknya adalah babi.

Hal mendasar yang saya pelajari dari karya-karya Petergould adalah semangat untuk MEWARNAI segala aktifitas, kerja, dan karya kita dengan warna islami. Islami bukan hanya dalam arti simbol, tapi juga dalam arti nilai-nilai ajaran Islam, Islam Inside.

Semoga menginspirasi,

Salam,
Siti Rohmanatin Fitriani

Note: 
Informasi tentang game bisa dilihat di http://aminaskitchenapp.com/