Minggu, 22 Juli 2018

Masjid Adelaide (The oldest Mosque in Australia)


Saat dapat kesempatan mengikuti Australia-Indonesia MEP (muslim exchange Program) tahun 2015, saya baru tahu bahwa berbagai komunitas menjadi bagian dr proses panjang sejarah peradaban Islam di Australia, salah satunya adalah komunitas Makasar yang sdh menginjakkan kaki dg berlayar ke Australia.

Komunitas lain yang memiliki pengaruh besar bagi Islam di Australia adalah mereka yang kemudian dikenal dg sebutan Cameleers, alias para penunggang unta. Mereka menjelajah Australia, berdagang, dan juga meninggalkan jejak peradaban berupa bangunan-bangunan masjid.

Salah satu bangunan bersejarah bagi Islam di Australia adalah Masjid Adelaide. Masjid ini merupakan bangunan masjid permanen pertama di Australia. Masjid Adelaide ini awalnya dikenal dengan "Afghan Chapel". Hal ini tidak lain karena kontribusi para imigran Afghanistan dalam pembangunan masjid ini.

Masjid ini terletak di 28/20 Little Gilbert St, Adelaide, South Australia. Dibangun pada tahun 1888-1889 oleh para imigran dari Afganistan dan para penunggang Unta dari India Utara. 4 menara uniknya yang dibangun pada tahun 1903 membuat masjid ini bisa terlihat dari kejauhan.

Bangunan utama masjid ini tidak terlalu besar, sekitar 11m x 7 meter. Di sebelahnya terdapat pelataran yang luasnya hampir sama dengan luas
bangunan utama masjid. Teras masjid juga memiliki luas yang hampir serupa. Pada saat sholat Jumat, pelataran dan teras ini diberi karpet utk menampung para jemaah.


 Jamaah perempuan berada di bangunan yg agak terpisah dari bangunan utama masjid. Berada di ruangan sekitar 7 m x 7 m persegi, ruang sholat perempuan ini bisa menampung sekitar 30-35 orang jamaah. Di ruang sholat perempuan ini terdapat almari yang dipenuhi dengan alquran, buku agama, juga buku-buku umum seperti kamus dan buku untuk anak2.

Sholat jumat dilaksanakan sekitar jam 01.30 pm (padahal saya sudah stand by dari jam 12.00 karena jadwal waktu sholat dhuhur sekitar jam 12.15 😂). Masjid, pelataran, teras, dan ruang sholat wanita dipenuhi oleh jamaah yang berjumlah sekitar 100 an lebih. H
Khutbah disampaikan dalam bahasa Inggris.

 Sebagaimana masjid-masjid lain, Masjid ini juga dilengkapi tempat wudhu dan toilet yang terpisah ruangan antara laki-laki dan perempuan. Tempat wudhu dan toiletnya sangat bersih dan nyaman.

Dilihat dari segi aksesibilitas, masjid ini bisa dikatakan cukup sensitif terhadp kebutuhan jamaahnya. Masjid ini dengan  muda bisa diakses oleh mereka yang menggunakan kursi roda. Ada lantai datar di samping tangga utk menanjak naik ke bangunan masjid.
Di area tempat wudhu perempuan, terdapat meja tempat mengganti popok bayi yang memudahkan bagi mereka yang membawa bayi dan anak2.

Siti Rohmanatin Fitriani
Adelaide, 22 Juli 2018

Tidak ada komentar:

Posting Komentar